Panduan Zakat

Zakat adalah harta tertentu yang dikeluarkan apabila telah mencapai syarat yang diatur sesuai aturan agama, dikeluarkan kepada 8 asnaf penerima zakat. Menurut Bahasa kata “zakat” berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah.

Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk beroleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5)

Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan dan pensuci dari dosa-dosa.

Dalam Al-Quran disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103).

Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzaki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik.

Asnaf (8 Golongan)

Sebagai instrumen yang masuk dalam salah satu Rukun Islam, zakat tentu saja memiliki aturan mengikat dari segi ilmu fiqihnya, salah satu diantaranya adalah kepada siapa zakat diberikan.

Dalam QS. At-Taubah ayat 60, Allah memberikan ketentuan ada delapan golongan orang yang menerima zakat yaitu sebagai berikut:


1.    Fakir, mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.


2.    Miskin, mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.


3.    Amil, mereka yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.


4.    Mu'allaf, mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menguatkan dalam tauhid dan syariah.


5.    Hamba sahaya, budak yang ingin memerdekakan dirinya.


6.    Gharimin, mereka yang berhutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya.


7.    Fisabilillah, mereka yang berjuang di jalan Allah dalam bentuk kegiatan dakwah, jihad dan sebagainya.


8.    Ibnu Sabil, mereka yang kehabisan biaya di perjalanan dalam ketaatan kepada Allah.
 

 

Jenis Zakat

Secara umum zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat maal. Secara lebih rinci, zakat maal ini memiliki jenis zakat lainnya seperti:

1.    Zakat penghasilan


2.    Zakat emas dan perak


3.    Zakat perusahaan


4.    Zakat perdagangan


5.    Zakat saham


6.    Zakat reksadana


7.    Zakat rikaz


8.    Dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui informasi lainnya terkait zakat, simak video berikut:

 

Zakat Penghasilan

 

                                                                  

 

Zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan atas perolehan dari pengembangan potensi diri seseorang dengan cara yang sesuai syariat, seperti upah kerja rutin, profesi dokter, pengacara, arsitek, guru dll. Zakat penghasilan memiliki berbagai istilah seperti zakat profesi atau zakat pendapatan dan jasa sesuai dengan PMA no.52 tahun 2014.

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al Baqarah: 267).

Dari berbagai pendapat, dinyatakan bahwa landasan zakat penghasilan dianalogikan kepada zakat hasil pertanian yaitu dibayarkan ketika memperoleh hasilnya. Menurut PMA no.52 tahun 2014, zakat profesi ditunaikan pada saat pendapatan dan jasa diterima dan dibayarkan melalui amil zakat resmi.

Nishab zakat penghasilan senilai 653 kg gabah atau sebesar 524 kg beras (makanan pokok) (nilai ini setara dengan Rp5.240.000,-) dan dibayarkan dari pendapatan kotor. Sedangkan tarifnya dianalogikan kepada zakat emas dan perak yaitu sebesar 2,5 %, atas dasar kaidah “Qias Asysyabah”. Adapun cara menghitungnya sebagai berikut:

Zakat yang dikeluarkan = Jumlah pendapatan bruto x 2.5%

Contoh:

Penghasilan diterima setiap bulan sebesar Rp5.240.000, maka sudah wajib zakat. Jadi zakat yang dibayarkan adalah Rp5.240.000 x 2.5% = Rp131.000,-

Untuk menunaikan zakat penghasilan, silakan klik di sini.

Zakat Maal

Menurut bahasa, harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya. Sedangkan menurut istilah, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan). Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun dan dikuasai.
2. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak dan lain-lain.

Syarat harta yang wajib di zakati yaitu, milik penuh, bertambah atau berkembang, cukup nisab, lebih dari kebutuhan pokok, bebas dari hutang dan sudah berlalu satu tahun (haul). Nisab zakat maal sebesar 85 gram emas dengan tarif zakatnya 2,5%. Berikut cara menghitung zakat maal:

2,5% x Jumlah harta yang tersimpan selama 1 tahun

Contoh:

Bapak A selama 1 tahun penuh memiliki harta yang tersimpan (emas/perak/uang) senilai Rp100.000.000,-. Jika harga emas saat ini Rp622.000,-/gram, maka nishab zakat senilai Rp52.870.000,-. Sehingga Bapak A sudah wajib zakat. Zakat maal yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x Rp100.000.000,- = Rp2.500.000,-.

Untuk menunaikan zakat maal, silakan klik di sini.

Zakat Fitrah

 

                                                               

 

Wajib ditunaikan bagi seorang muslim/ah yang sudah mampu untuk menunaikannya. Zakat fitrah harus dikeluarkan setahun sekali pada saat awal bulan Ramadhan hingga batas sebelum sholat hari raya Idul Fitri. Hal tersebut yang menjadi pembeda zakat fitrah dengan zakat lainnya.

Sebagaimana tercantum pada hadits Rasulullah SAW mengatakan:

“Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Id maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat Id maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud).

Zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Kualitas beras atau makanan pokok harus sesuai dengan kualitas beras atau makanan pokok yang dikonsumsi kita sehari-hari. Namun beras atau makanan pokok tersebut dapat diganti dalam bentuk uang senilai 2,5 kg atau 3,5 liter beras.

Zakat fitrah akan menyucikan harta dan menyempurnakan puasa, karena dalam setiap harta manusia ada sebagian hak orang lain. Oleh karenanya, tidak ada suatu alasan pun bagi seorang hamba Allah yang beriman untuk tidak menunaikan zakat fitrah karena telah diwajibkan bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.

Untuk menunaikan zakat fitrah, silakan klik di sini.

Zakat Emas & Perak

 

 

Zakat emas, perak, dan logam mulia lainnya adalah zakat yang dikenakan atas emas, perak dan logam lainnya yang telah mencapai nisab dan haul. Zakat emas dan perak ditunaikan jika seorang muzaki (orang yang menunaikan zakat) memiliki emas mencapai nisab senilai 85 gram atau perak dengan mencapai nisab 595 gram. Tarif zakat yang harus dibayarkan adalah sebesar 2,5% dari emas atau perak yang dimiliki. Berikut cara menghitung zakat emas/ perak:

2,5% x Jumlah emas/ perak yang tersimpan selama 1 tahun

Contoh:

Bapak A selama 1 tahun penuh memiliki emas yang tersimpan sebanyak 100 gram, sehingga Bapak A sudah wajib zakat. Jika harga emas saat ini Rp622.000,-/gram, maka emas tersebut senilai Rp62.200.000,-. Zakat emas yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x Rp62.200.000,- = Rp1.555.000,-.

Untuk menunaikan zakat emas dalam bentuk rupiah, silakan klik di sini.

Zakat Perusahaan

 

 

Para ulama peserta Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H), menganalogikan zakat perusahaan kepada zakat perdagangan. Hal ini dikarenakan, jika dipandang dari aspek legal dan ekonomi, kegiatan sebuah perusahaan intinya berpijak pada kegiatan trading atau perdagangan.

Oleh karena itu, secara umum pola pembayaran dan penghitungan zakat perusahaan dianggap sama dengan zakat perdagangan begitu pun dengan kadar nisabnya setara dengan 85 gram emas.

Sebuah perusahaan biasanya memiliki harta yang tidak akan terlepas dari tiga bentuk: Pertama, harta dalam bentuk barang. baik yang berupa sarana dan prasarana maupun yang merupakan komoditas perdagangan. Kedua, harta dalam bentuk uang tunai yang biasanya disimpan di bank-bank. Ketiga, harta dalam bentuk piutang.

Maka yang dimaksud dengan harta perusahaan yang harus dizakati adalah ketiga bentuk harta tersebut dikurangi harta dalam bentuk sarana dan prasarana serta kewajiban mendesak lainnya, seperti utang yang jatuh tempo atau yang harus dibayar saat itu juga.

Abu Ubaid (wafat tahun 224 H) di dalam Al-Amwaal menyatakan bahwa;

"Apabila engkau telah sampai batas waktu membayar zakat (yaitu usaha engkau telah berlangsung selama satu tahun, misalnya usaha dimulai pada bulan Zulhijjah 1421 H dan telah sampai pada Zulhijjah 1422 H), perhatikanlah apa yang engkau miliki, baik berupa uang (kas) ataupun barang yang siap diperdagangkan (persediaan), kemudian nilailah dengan nilai uang dan hitunglah utang-utang engkau atas apa yang engkau miliki".

Dari penjelasan di atas, maka dapatlah diketahui bahwa pola perhitungan zakat perusahaan didasarkan pada laporan keuangan (neraca) dengan mengurangkan kewajiban atas asset lancar, atau seluruh harta (di luar sarana dan prasarana) ditambah keuntungan, dikurangi pembayaran utang dan kewajiban lainnya, lalu dikeluarkan 2,5 persen sebagai zakatnya. Sementara pendapat lain menyatakan bahwa yang wajib dikeluarkan zakatnya itu hanyalah keuntungannya saja.

Cara menghitung zakat perusahaan:

2,5% x (aset lancar – hutang jangka pendek)

 

Contoh:

Perusahaan A memiliki aset usaha senilai Rp2.000.000.000,- dengan hutang jangka pendek senilai Rp500.000.000,-. Jika harga emas saat ini Rp622.000,-/gram, maka nishab zakat senilai Rp52.870.000,-. Sehingga Perusahaan A sudah wajib zakat atas perusahaannya. Zakat perusahaan yang perlu ditunaikan sebesar 2,5% x (Rp2.000.000.000,- - Rp500.000.000,-) = Rp37.500.000,-.

Untuk menunaikan zakat perusahaan, silahkan menghubungi:

Contact Center BAZNAS +6221 3904555

Zakat Perdagangan

 

                                                                    

 

Zakat perdagangan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga, sedangkan harta niaga adalah harta atau aset yang diperjualbelikan dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian maka dalam harta niaga harus ada 2 motivasi: Motivasi untuk berbisnis (diperjualbelikan) dan motivasi mendapatkan keuntungan.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Harta perdagangan yang dikenakan zakat dihitung dari asset lancar usaha dikurangi hutang yang berjangka pendek (hutang yang jatuh tempo hanya satu tahun). Jika selisih dari asset lancar dan hutang tersebut sudah mencapai nisab, maka wajib dibayarkan zakatnya.

Nisab zakat perdagangan senilai 85 gram emas dengan tarif zakat sebesar 2,5% dan sudah mencapai satu tahun (haul). Berikut cara menghitung zakat perdagangan:

2,5% x (aset lancar – hutang jangka pendek)

 

Contoh:

Bapak A memiliki aset usaha senilai Rp200.000.000,- dengan hutang jangka pendek senilai Rp50.000.000,-. Jika harga emas saat ini Rp622.000,-/gram, maka nishab zakat senilai Rp52.870.000,-. Sehingga Bapak A sudah wajib zakat atas dagangnya. Zakat perdagangan yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x (Rp200.000.000,- - Rp50.000.000,-) = Rp3.750.000,-.

Zakat Saham

 

                                                                        

 

Zakat saham ditetapkan berdasarkan kesepakatan para ulama pada Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H) bahwa hasil dari keuntungan investasi saham wajib dikeluarkan zakatnya.

Zakat saham dapat ditunaikan jika hasil keuntungan investasi sudah mencapai nisab. Nisab zakat saham sama nilainya dengan nisab zakat maal yaitu senilai 85 gram emas dengan tarif zakat 2,5% dan sudah mencapai satu tahun (haul).

Cara menghitung zakat zaham pun sama dengan cara menghitung zakat maal yaitu menggunakan rumus sebagai berikut:

2,5% x Jumlah harta yang tersimpan selama 1 tahun

Kali ini, BAZNAS memberikan kemudahan kepada investor dalam menunaikan zakat melalui sahamnya. Saat ini investor tidak perlu merubah saham yang dimiliki menjadi rupiah untuk menunaikan zakat atas saham yang dimiliki, kini zakat dapat ditunaikan ke BAZNAS dalam bentuk saham ke rekening dana investor milik BAZNAS.

Investor perlu mengetahui apakah total asset account nya sudah mencapai nisab atau belum. Jika sudah, maka investor bisa menghitung berapa jumlah yang akan dizakati dalam bentuk satuan lot dengan rumus sebagai berikut:

Nominal zakat dalam rupiah: (harga pasar/lembar x 100 lembar)

Simak ulasan contoh perhitungan zakat saham di bawah ini:

Bapak A selama 1 tahun penuh memiliki total asset account senilai Rp100.000.000,-. Jika harga emas saat ini Rp622.000,-/gram, maka nishab zakat senilai Rp52.870.000,-. Sehingga Bapak A sudah wajib zakat. Zakat maal yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x Rp100.000.000,- = Rp2.500.000,-.

Cara perhitungan & pemindahbukuan portfolio saham:

Bapak A memiliki saham XXXX sebanyak 100 lot dimana harga pasar/lembar sebesar Rp645,- (1 lot sama dengan 100 lembar). Nilai zakat Bapak A dalam saham adalah Rp2.500.000 : (Rp645,- x 100 lembar) = 38,75 lot / pembulatan menjadi 39 lot. Untuk itu, Bapak A harus memindahkan 39 lot sahamnya sebagai zakat saham.

Zakat Community Development (ZCD) adalah program pemberdayaan BAZNAS melalui komunitas dan desa dengan mengintegrasikan aspek dakwah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan secara komprehensif yang sumber pendanaannya dari zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya.

 

Tujuan

1. Membangun masyarakat yang berakhlaqul karimah.
2. Menguatkan kelembagaan masyarakat yang tangguh dan mandiri.
3. Meningkatkan angka partisipasi wajib belajar.
4. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan derajat kesehatan dengan membangun pola hidup yang sehat dan bersih.
5. Meningkatkan pendapatan dengan membangun sistem mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan.

Prinsip

Zakat Community Development dalam melaksanakan tugas dan fungsi program berpegang kepada prinsip:

Amanah dan Bertanggung Jawab; Program dilaksanakan secara amanah dan dapat di pertanggungjawabkan (kesesuaian syariah, regulasi, manajerial, program dan proses).
Berkelanjutan; Terbangunnya sistem berbasis masyarakat (kelembagaan, mata pencaharian, dan kader lokal) yang mandiri dan berkelanjutan. Manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Partisipatif; Pelaksanaan Program melibatkan secara langsung mustahik atau penerima manfaat. Semua yang terlibat dalam penyaluran saling membantu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terintegrasi; Integrasi bidang (dakwah, pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan). Integrasi Multi Stakeholders (Government Sector, Private Sector, Civil Society). Integrasi pada tujuan pembangunan daerah, tujuan pembangunan nasional (Nawa Cita) dan tujuan pembangunan global (SDGs).

Strategi Program

Strategi Zakat Community Development dalam melaksanakan tugas dan fungsi program:

1. Penguatan Fasilitator Program dan Membangun Kader Lokal.
2. Berbasis Sumberdaya Lokal.
3. Berbasis Komunitas.
4. Berbasis Teknologi Tepat Guna.
5. Membangun Kelembagaan Lokal (institusi keuangan mikro syariah, institusi kesehatan, institusi pendidikan, dan institusi dakwah).
6. Menguatkan kapasitas masyarakat dalam pengurangan resiko bencana berbasis komunitas dengan membangun Desa Siaga Bencana.

 

Kategori dan Kriteria Program

KATEGORI KRITERIA
I. Berbasis Wilayah
  • Pedesaan
  • Perkotaan
  • Pesisir
  • Kepulauan
  • Pinggir Hutan
II. Berbasis Zona
  • Sumatera
  • Kalimantan
  • Sulawesi
  • Jawa
  • Bali dan Nusa Tenggara
  • Maluku dan Papua
III. Berbasis Potensi Lokal
  • Potensi Wisata dan Budaya
  • Komoditas dan sektor unggulan (perikanan, pertanian, perkebunan, kerajinan)
  • Dukungan masyarakat (modal sosial yang bagus)


 

Tahapan Program

Tahapan Program Zakat Community Development BAZNAS dilaksanakan tiga tahap selama tiga tahun, terdiri dari:

 

Tahap I; Perintisan dan Penumbuhan

Salam Desa

Ruang lingkup kegiatan:

1. Baseline Data (usulan daerah* dan survey langsung)
2. Perancangan Program
3. Pengkondisian Masyarakat melalui Program-program Rintisan
4. Pelaksanaan Program Utama
5. Monitoring dan Evaluasi

*) melalui kompetisi usulan program

 

Tahap II; Penguatan

Bangkit Desa

Ruang lingkup kegiatan:

1. Penguatan kapasitas Fasilitator Program dan Kader Lokal
2. Penguatan Kelembagaan Lokal (institusi keuangan mikro syariah, institusi kesehatan, institusi pendidikan, dan institusi dakwah)
3. Penguatan Manajemen Usaha Mustahik (produksi, pengelolaan keuangan, akses pasar)

 

Tahap III; Pemandirian

Desa Berkah

Ruang lingkup kegiatan:

1. Legalitas kelembagaan
2. Kemampuan lembaga lokal dalam membiayai operasionalnya
3. Kestabilan usaha mustahik (produksi –kualitas dan kuantitas, pemasaran, administrasi keuangan)
4. Komitmen Stakeholders dalam menjamin keberlanjutan program
5. Menjadi lokasi wisata dan memiliki komoditas unggulan

 

Output Program

1. Terwujudnya masyarakat yang berakhlaqul karimah (pelaksanaan ibadah ritual, tidak adanya unsur gharar dalam transaksi jual beli, komoditas yang dihasilkan halal dan thayib).
2. Terwujudnya kelembagaan masyarakat yang tangguh dan mandiri (aspek legalitas lembaga, tertib administrasi, kemampuan membiayai operasional, membayar infaq dan atau zakat).
3. Terjadinya peningkatan angka partisipasi wajib belajar (pemberantasan buta aksara dan buta Al Qur’an, terpenuhinya wajib belajar 12 tahun).
4. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan derajat kesehatan melalui pembangunan pola hidup yang sehat dan bersih (sarana air bersih, pengelolaan sampah, lingkungan yang sehat dan bersih, tanaman obat keluarga, tanaman pekarangan, POSYANDU yang aktif dan berkelanjutan).
5. Meningkatnya pendapatan dan adanya sistem mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan.
6. Meningkatkan pemahaman masyarakat berbasis kearifan lokal dalam pengurangan resiko bencana.

 

Microfinance BAZNAS adalah lembaga bantuan pembiayaan produktif kepada mustahik dengan prinsip non for profit dalam rangka pengembangan usaha.

 

Permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan pada usaha kecil menengah dikarenakan karakteristik usaha yang tertutup, mengandalkan modal dari si pemilik yang jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit diperoleh karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh bank tidak dapat dipenuhi.

 

Tujuan utama adalah memberikan akses layanan pembiayaan produktif kepada mustahik dalam rangka mengembangkan usahanya.

 

Kriteria usaha yang dapat dibiayai:

1. Sudah berjalan selama satu tahun terakhir dengan konsep usaha yang jelas.
2. Membuat Surat Keterangan Usaha minimal dari Kelurahan.
3. Memiliki catatan pembukuan kegiatan usaha yang dapat menilai asset.
4. Memiliki rekening bank.

Status Pendanaan

Hibah bers yarat, para nasabah wajib mengangsur cicilan sebesar 10 % dari nilai total pendanaan tiap bulan selama sepuluh bulan. Dana tersebut nantinya akan menjadi tambahan modal bagi para nasabah tanpa mengajukan kembali kepada Bank Mustahik.

 

Bahwa dalam rangka meningkatkan manfaat zakat dengan mengakomodir kebutuhan mustahik secara prima, perlu mendayagunakan zakat di bidang sosial dan ekonomi. Oleh karenanya, Badan Amil Zakat Nasional melalui program Layanan Aktif BAZNAS (LAB) sebagai program khusus divisi Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat (DPP), hadir untuk bisa menyalurkan dana zakat sesuai ketentuan tersebut. Layanan Aktif BAZNAS (LAB) adalah program layanan darurat sosial untuk mustahik dengan model penanganan tepat sasaran, tepat waktu (cepat) dan tepat penanganan.

 

Untuk melayani mustahik yang diketegorikan dalam keadaan darurat, Layanan Aktif BAZNAS (LAB) membagi ke dalam beberapa unit, yaitu melalui Unit Layanan, Unit Respon dan ATM Beras. Terkhusus unit layanan dan unit respon melayani jenis layanan bantuan akses tempat tinggal (biaya kontrakan dan atau renovasi rumah), bantuan akses pengobatan dan atau kesehatan, bantuan akses pendidikan, bantuan akses konsumsi (biaya hidup, pakaian, dan atau ATM Beras), bantuan akses transportasi, dan bantuan hutang untuk pemenuhan biaya hidup dasar.

 

Sedangkan dalam menjalankan tugasnya, Layanan Aktif BAZNAS menyelenggarakan fungsi:

1. Perencanaan; meliputi perencanaan kegiatan, keuangan, dan sumber daya manusia.
2. Pelaksanaan; adalah implementasi operasional kegiatan yang direncanakan. Ini terbagi menjadi beberapa cluster yang meliputi kebutuhan biaya hidup, kesehatan, pendidikan, dan renovasi rumah.
3. Pengendalian; meliputi monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan program.
4. Pelaporan; pertanggungjawaban terhadap perencanaan implementasi kegiatan, target, sasaran, serta penggunaan anggaran.

Prinsip

Layanan Aktif BAZNAS dalam melaksanakan tugas dan fungsi program berpegang kepada prinsip:

Cepat; Sigap saat melakukan respon pelayanan.
Tepat; Memastikan pelayanan kepada kelompok yang layak dibantu (ashnaf utama).
Koordinasi; Pelaksanaan melibatkan mustahik langsung sebagai pelaku.
Berhasil guna; Memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi mustahik.
Akuntabilitas; Memegang kepercayaan publik melalui pelaporan evaluasi yang benar.
Berdaya Guna; Dikelola secara mandiri dan berkelanjutan oleh mustahik.
Prioritas. Dilakukan secara hierarki dalam upaya mengefektifkan pendistribusian zakat.

 

Wilayah Kerja

Cakupan wilayah kerja Layanan Aktif BAZNAS sebagian besar terbagi menjadi 5 wilayah yang meliputi wilayah Jabodetabek, diantaranya wilayah:

1. Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.
2. Jakarta Timur, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.
3. Jakarta Selatan, Tangerang Selatan dan Depok.
4. Jakarta Barat, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang dan sekitarnya.
5. Kota Bogor dan kabupaten Bogor dan sekitarnya.


 

Program

UNIT LAYANAN dan UNIT RESPON

1. Transportasi
2. Kesehatan
3. ATM Beras
4. Fasilitas Umum
5. Biaya Hidup
6. Kontrakan
7. Renovasi Rumah
8. Pendidikan
9. Pelunasan Hutang
10. Dapur Air
11. Kebencanaan

Mualaf Center BAZNAS (MCB) adalah program yang bertugas melakukan pembinaan dan pendampingan kepada mualaf sesuai tuntutan syariat Islam agar menjadi muslim dan muslimah Kaffah.

 

Berbagai program sudah direalisasikan oleh Mualaf Center BAZNAS. Berikut diantaranya;

1. Portal Online, Saranan dan Informasi MCB.
2. Paket Mualaf (Sarung, Peci, Mukena, dll.)
3. Hand Book, Panduan Ibadah dalam 3 bahasa.
4. Kurikulum, sebagai modul pembinaan mualaf.
5. Standarisasi, standar baku proses pengislaman.
6. Kajian Tematik Bulanan.
7. Basic Need dan Kafalah, pemenuhan kebutuhan dasar mualaf dan perlengkapan ibadah.
8. Pemberdayaan usaha mualaf.

Terima kasih telah mengakses website www.baznas.go.id/bayarzakat. Kami sangat menghormati kenyamanan privasi Anda dan melindungi informasi pribadi Anda sebaik-baiknya.

Ketentuan-ketentuan yang ada dalam halaman ini mengatur hal-hal menyangkut data-data para Pengguna Situs yang diberikan oleh para Pengguna Situs kepada Pengelola Situs dalam rangka pemanfaatan fasilitas, fitur, jasa, dan/atau layanan yang ditawarkan oleh Pengelola Situs melalui Situs www.baznas.go.id. Ketentuan-ketentuan menyangkut data mengikat seluruh Pengguna Situs tanpa terkecuali untuk tunduk dan patuh atas ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Pengelola Situs.

Berikut ini ketentuan-ketentuan menyangkut data tersebut:

  1. Atas data-data yang diberikan oleh para Pengguna Situs kepada Pengelola Situs sebagai pemenuhan syarat atas pemanfaatan fasilitas, fitur, jasa, dan/atau layanan yang ditawarkan oleh Pengelola Situs, maka Pengelola Situs berkewajiban untuk:

    1. Menjaga kerahasiaan data-data para Pengguna yang tidak dapat ditampilkan dalam Situs dan/atau diberikan kepada pihak-pihak tertentu atas penggunaan jasa atau layanan Situs selama tidak ada perjanjian tertulis terlebih dahulu kepada Pengguna;

    2. Kerahasiaan data Pengguna yang wajib dijaga oleh Pengelola Situs menjadi tidak berlaku apabila Pengelola Situs dipaksa oleh ketentuan hukum yang berlaku, perintah pengadilan, dan/atau perintah dari aparat/instansi yang berwenang, untuk membuka data-data milik Pengguna tersebut.

  2. Pengelola Situs hanya bertanggung jawab atas data yang diberikan Pengguna Situs kepada Pengelola Situs sebagaimana yang telah ditentukan pada ketentuan sebelumnya.

  3. Pengelola Situs tidak bertanggung jawab atas pemberian atau pertukaran data yang dilakukan sendiri antar Pengguna Situs.

  4. Pengelola berhak untuk mengubah ketentuan menyangkut data-data para Pengguna Situs tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dengan tanpa mengabaikan hak para Pengguna Situs untuk dijaga kerahasiaan datanya sebagaimana yang telah ditentukan dalam butir.

  1. Pengguna situs yang memasukan email, maka berhak baginya menerima informasi berupa kegiatan atau aktivitas BAZNAS dalam bentuk newsletter dan lain sebagainya.

  2. Muzaki yang telah membayar zakat dan melakukan konfirmasi berhak mendapatkan Bukti Setor Zakat (BSZ).

  3. Bukti Setor Zakat (BSZ) dapat digunakan sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP).

  4. Apabila muzaki menerima ketentuan biaya administrasi ketika melakukan pembayaran, maka ketentuan tersebut ditanggung oleh muzaki sesuai standar pembayaran yang belaku dari setiap channel pembayaran.

  5. Dengan menunaikan zakat ke BAZNAS, muzaki berhak menerima laporan pendistribusian zakat melalui email.

  6. Muzaki dapat memilih peruntukan zakat atau infak sesuai keinginan.

 

 

  1. Apa kepanjangan dari ZIS?

ZIS adalah singkatan dari Zakat, Infaq dan Sedekah

  1. Apa itu Zakat, Infaq dan Sedekah?

Zakat adalah harta tertentu yang dikeluarkan apabila telah mencapai syarat yang diatur sesuai aturan agama untuk diberikan kepada delapan golongan sesuai tuntunan QS. At-Taubah ayat 60. Info detail mengenai zakat klik di sini.

Sedangkan Infaq dan Sedekah, menurut UU nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, infaq merupakan harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum, sedangkan sedekah ialah harta atau nonharta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.

Dari pengertian berikut, sedekah memiliki cakupan yang lebih luas dari infaq. Sedekah tidak selalu memberikan harta, melainkan bisa dinilai dengan segala amal baik lainnya seperti berdzikir, tersenyum kepada sesama muslim, menyingkirkan duri dari jalan dan lain sebagainya

Betapa banyak keutamaan infaq dan sedekah yang diperbincangkan Al-Qur’an dan hadits, Allah menjanjikan kepada orang yang berinfaq atau bersedekah akan dihapuskan dosanya. Rasulullah SAW. Bersabda, Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”

  1. Apa pengertian dari kata Muzaki?

Muzaki adalah sebutan bagi orang yang menunaikan zakat.

  1. Apa pengertian dari kata Mustahik?

Mustahik adalah sebutan bagi orang yang menerima zakat.

  1. Apa syarat wajib zakat?

Syarat wajib zakat adalah muslim, berakal, merdeka dan mencapai nisab serta haul.

  1. Apa itu Kalkulator Zakat?

Kalkulator zakat adalah sebuah layanan yang diberikan oleh BAZNAS untuk mempemudah muzaki dalam menghitung jumlah harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Untuk mencoba kalkulator zakat silakan klik di sini.

  1. Bagaimana cara melakukan konfirmasi zakat?

Konfirmasi dapat dilakukan dengan mengisi form konfirmasi. Silakan klik disini.

  1. Apa itu Bukti Setor Zakat (BSZ)?

Bukti Setor Zakat (BSZ) adalah bukti pembayaran yang berhak diterima muzaki setelah melakukan pembayaran dan konfirmasi zakat kepada petugas BAZNAS.

  1. Apa saja kegunaan BSZ?

BSZ bisa digunakan sebagai pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP).

  1. Kemana zakat didistribusikan oleh BAZNAS?

BAZNAS menyalurkan zakat ke 8 asnaf dalam beberapa program seperti Sosial, Ekonomi, Dakwah dan Advokasi.

  1. Bagaimana caranya untuk melakukan konsultasi zakat?

Untuk melakukan konsultasi zakat dapat menghubungi Layanan Muzaki BAZNAS. Silakan klik di sini.